Minggu, 30 Agustus 2009

Telaga Ngebel


Telaga Ngebel yang Masih Perawan


Sejuk dan teduh. Itulah kesan pertama yang akan dilontarkan oleh siapa saja tatkala pertama kali memasuki kawasan Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Berhamparkan air yang jernih nan tenang, telaga ini berhiaskan pohon-pohon tua di tepiannya. Indah, tentu saja. Dan ini bisa menjadi penawar lelah para wisatawan setelah mereka melewati jalan berliku, naik-turun, untuk menuju objek wisata ini.

Sembari menikmati pemandangan indah itu, angin gunung yang sejuk berhembus menelusup pori-pori. Berada di punggung Gunung Wilis, kawasan ini hampir setiap berselimut kabut. Pada pagi dan sore hari, gumpalan kabut ini akan menjadi pemandangan yang memesona. Saat itulah, gumpalan kabut itu menyentuh permukaan air telaga. ”Jika ingin melihat panorama Ngebel dengan pesona kabutnya, lihatlah pada pagi dan sore hari. Pada saat itulah Ngebel punya pesona yang luar biasa,” kata Mbah Kasmorejo, salah seorang sesepuh di Ngebel.

Saat ini, sepanjang bibir telaga dikelilingi jalan beraspal. Wisatawan bisa menikmati lekuk tubuh telaga yang indah itu dari berbagai sudut. Malah, kalau mau sedikit repot, wisatawan bisa naik jalan setapak dan masuk semak-belukar di atas bukit. Dari titik itu, keindahan Telaga Ngebel terhampar di bawah tatapan mata kita. Dari titik itu pula, Anda akan melihat angin gunung mempermainkan dedaunan pohon trembesi dan sono hingga menjilat-jilat permukaan air telaga.

Telaga seluas 148 hektare yang menjadi objek wisata andalan ‘kota reog’ Ponorogo ini, bisa dikata masih perawan. Betapa tidak, pembangunan sarana dan prasarana belum menyentuh objek wisata ini secara optimal. Bayangkan, di telaga yang luas ini hanya ada sebuah perahu. Juga, di bibir telaga ini hanya ada sebuah bangunan kecil semacam pendopo, sebagai tempat prosesi larung sesaji, di kala bulan Suro tiba. Sepanjang bibir telaga ini hanya dipenuhi warung-warung tradisional yang terbuat dari gedhek (dinding bambu).

”Tapi, warung-warung itulah yang membuat Telaga Ngebel makin memesona dan alami,” kata Hari Muhammad Fachri, salah seorang wisatawan dari Jakarta, ketika berekreasi di Telaga Ngebel. Sayangnya, kata dia, untuk bisa bermalam di objek wisata ini tak ada hotel yang memadai. Hanya ada beberapa losmen sebagai tempat menginap, dengan fasilitas amat minimalis.

Selain panorama yang indah dan masih perawan, Telaga Ngebel juga kaya akan sumber alam, utamanya air tawar bersih yang keluar dari sumber-sumber di dasar telaga sedalam kurang lebih 52 meter. Tanah subur di sekitar telaga ini juga menghasilkan aneka pohon buah berkualitas. Durian Ngebel, begitu kata orang, menjadi buah primadona kawasan ini. Selain buah berduri itu, tumbuh subur pula pohon manggis, nangka, dan tanaman perkebunan seperti cengkeh dan kopi. Menikmati keindahan panorama telaga sembari makan buah-buahan khas Ngebel adalah tujuan para wisatawan. ”Itulah cerita keindahan dan kenikmatan di Telaga Ngebel,” kata Fachri lagi.

Bukan itu saja keistimewaan Telaga Ngebel sebagai kawasan wisata. Selain lokasinya yang menarik, udaranya juga segar, bersih, dan dingin. Sebuah perpaduan alami yang memikat. Hal ini dimungkinkan karena Telaga Ngebel terhampar di atas lahan subur setinggi kurang lebih 734 meter di atas permukaan laut, dikelilingi empat bukit: Bukit Semampir, Tambak, Ngoro, dan Kumambang. Gunung Liman, yang menjulang tinggi, juga melatarbelakangi salah satu sudut telaga Ngebel.

Jika suatu kali berkesempatan melancong ke tempat ini, bisa jadi Anda akan terkesima melihat pohon-pohon trembesi yang telah berumur ratusan tahun. Begitu tuanya pohon-pohon itu sehingga akar-akarnya yang besar menyembul di atas permukaan tanah. Sepintas, pohon-pohon trembesi sepuh itu mirip bonsai-bonsai raksasa.

Dengan segala keindahannya, Telaga Ngebel saat ini menjadi tempat wisata favorit bagi masyarakat di wilayah Ponorogo dan daerah-daerah lain di Jawa Timur. Untuk mereka yang hobi memancang, telaga ini juga memiliki daya tarik yang sangat kuat. Hanya di sinilah, para pemancing bisa mendapatkan ngokngok, ikan khas telaga ini. Tak hanya ngokngok. Telaga Ngebel juga dihuni banyak ikan nila. Kira-kira, seperti apa paras ikan ngokngok? Ketimbang penasaran, sambangi saja Telaga Ngebel.

Sumber : www.republika.co.id


Selasa, 25 Agustus 2009

Si Bolang Ponorogo


Si Bolang 
Senin - Minggu | 12.30 WIB/ TRANS 7

Dunia anak-anak adalah masa yang luar biasa. Penuh tawa dan khayalan. Kebanyakan orang di belahan bumi, memiliki kenangan indah dimasa itu. Alam dan budaya tempat tinggal menjadi faktor penting dalam pembentukan karakternya, terutama bagi anak yang kerap bermain di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.  

Saat ini, alam dan budaya tradisional cenderung tak dilirik dan nyaris ditinggalkan oleh sebagian anak negeri. Permainan-permainan elektronik yang muncul dewasa ini mulai menggantikan permainan tradisional. Dampak dari fenomena tersebut, anak-anak calon penerus bangsa seakan lupa pada budaya dan alamnya sendiri. 

Si Bolang atau bocah petualang adalah salah satu program petualangan anak-anak di TV7. Program ini mencoba mendekatkan kembali anak-anak di seluruh Nusantara dengan alam dan budayanya. Bagaimana Si Anak berinteraksi dengan alam, budaya, dan bermain dengan beraneka ragam permainan tradisional. Selain itu, sisi-sisi human interest sang tokoh ketika menghadapi suatu masalah juga ditampilkan di Film semi dokumenter berdurasi 30 menit ini. 

Si Bolang adalah sebutan dari seorang anak setempat yang memimpin teman-temannya berpetualang di sekitar tempat tinggalnya. Di episode perdana, Si Bolang mengangkat cerita kehidupan anak-anak Tuadale, Kupang, NTT. Sebuah daerah yang memiliki karakter alam dan venue nan unik juga menawan. Salah satu pemeran di program ini adalah bocah nelayan setempat bernama Jose. Di usianya yang ke 12, Jose dan teman-temannya akan berpetualang di rawa-rawa hutan bakau yang -konon- masih dihuni oleh beberapa buaya ganas. Kelincahan anak-anak Tuadale dalam mengendalikan perahu menyusuri hutan bakau merupakan tontonan yang seru dan menghibur. Mereka juga menyusuri pantai Salupu untuk berburu kepiting dan gurita dimalam hari dengan penerangan seadanya. 

Di episode Si Bolang Ponorogo, Si Bolang mengangkat cerita kehidupan anak-anak Ngebel, Ponorogo, JATIM. Sebuah daerah yang memiliki karakter alam pegunungan dan venue nan unik juga menawan. Pemerannya adalah bocah SDN Ngebel 01 kelas 6 bernama Niko. Di usianya yang ke 12, Niko dan teman-temannya akan berpetualang di hutan, air terjun, sumber air panas dan danau ngebel yang -konon- masih dihuni oleh naga bernama Baruklinthing. Kelincahan anak-anak Ngebel dalam mengendalikan gledekkan pengangkut rumput menyusuri jalan turunan berkelok khas pegunungan merupakan tontonan yang seru dan menghibur. Mereka juga memberi makan kambing etawa milik pak Lukito yang menjadi juara 1 tingkat kabupaten. Mementaskan reog mini sebuah kesenian daerah yang harus dilestarikan jangan sampai di akui Negara lain lagi.

Hampir disetiap episodenya, bocah-bocah dan tokoh Si Bolang akan menampilkan petualangan-petualangan seru.