Selasa, 18 Mei 2010

Hutan Pendidikan Diresmikan di Pasuruan

26 Feb 2008
TEMPO Interaktif, Pasuruan: Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Ngudi Lestari Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Pasuruan, Jawa Timur membuat hutan pendidikan di Desa Jatiarjo. Hutan ini dijadikan sebagai arena konservasi dan keanekaragaman hayati, media pendidikan publik, dan obyek wisata hutan.

"Sudah saatnya masyarakat mengelola hutan sendiri," kata Ketua LMDH Ngudi Lestari, Fathurachman setelah peluncuran Hutan Pendidikan di Yayasan Kaliandra, Prigen, Kabupaten Pasuruan pada Senin (14/1). Hutan pendidikan seluas 7,25 hektar ini bekas hutan produksi Perum Perhutani KPH Pasuruan yang ditanami pinus.

Perhutani KPH Pasuruan memberikan hak pengelolaan kepada LMDH untuk dijadikan hutan pendidikan setelah ada kerjasama antara Perhutani KPH Pasuruan dan LMDH Ngudi Lestari yang difasilitasi oleh Yayasan Kaliandra.

Dalam kerjasama ini, Perhutani KPH Pasuruan menyediakan tanah, Ngudi Lestari bertugas mengelola, sedangkan Yayasan Kaliandra membantu meningkatkan ketrampilan petani penggarap dan menyediakan dana kompensasi.

Tugas delapan petani penggarap tersebut sekarang adalah menanam bibit tanaman keras dan merawatnya. Untuk sementara, para petani masih diperbolehkan menanam tanaman semusim. Tapi jika tanaman keras sudah besar, petani tidak diperbolehkan menanam tanaman semusim. Adapun penghasilan petani nantinya akan didapatkan dari buah tanaman keras, seperti jambu atau kopi. Penghasilan lain akan didapat dari honor sebagai pemandu di hutan pendidikan.

Selain itu, para petani mendapatkan uang jasa lingkungan dari Yayasan Kaliandra. "Kaliandra menyisihkan Rp 1.000 per pengunjung untuk diberikan ke para petani melalui LMDH," kata Ketua Harian Yayasan Kaliandra Agus Wiyono. Diperkirakan uang jasa tersebut mencapai 20 juta per tahun.

Wakil Administratur Perhutani KPH Pasuruan, Eka Muhammad Ruskandar mengatakan Perhutani berani menyerahkan pengelolaan hutan produksi ini ke masyarakat karena sudah ada jaminan dari LMDH, petani, dan petani bahwa hutan tersebut tidak akan dikuasai secara pribadi atau beralih menjadi tanah pribadi. "Ada jaminan hanya mengelola, bukan memiliki," katanya usai launching hutan pendidikan. Bibin Bintariadi

Sumber : TEMPO Interaktif
Url : http://www.tempointeraktif.com

Selasa, 06 April 2010

Diluncurkan, Peta Hijau Jakarta

JAKARTA, KOMPAS.com — Peta Hijau Jakarta 2009 diluncurkan, Minggu (15/3) di Jakarta, oleh gabungan beberapa organisasi dan komunitas, seperti Sahabat Museum, Komunitas Historia, Bike to Work, Green Lifestyle, Green Monster Jakarta, Institute for Transportation and Development Policy, dan Bank Dunia.

Peluncuran peta ini ditandai dengan kunjungan seluruh pihak yang terlibat dalam penerbitan ke Taman Krida Loka, yang berdekatan dengan halte bus transjakarta Polda Metro Jaya, serta Museum Taman Prasasti, yang berdekatan dengan halte bus transjakarta Monas dan Stasiun KA Tanah Abang.

Menurut Koordinator Peta Hijau Jakarta Nirwono Joga, peta kali ini memang memuat lokasi-lokasi tujuan wisata yang berdekatan dengan jalur transportasi publik ramah lingkungan, seperti bus transjakarta, kereta api, serta sepeda. Untuk bus transjakarta, tim penyusun peta setidaknya mencantumkan 13 lokasi wisata bersejarah dan alam, seperti Museum Taman Prasasti di dekat Transjakarta jurusan Blok-M-Kota hingga Kebun Binatang Ragunan di dekat Halte Ragunan.

Untuk jalur kereta api, tim penyusun juga menginformasikan beberapa tempat yang patut dikunjungi, seperti Sanggar Ciliwung di dekat Stasiun KA Jatinegara. Sementara itu, untuk jalur sepeda ada Gor Bulungan dan Gelanggang Remaja Jakarta Selatan. "Tujuan akhir peta ini adalah meningkatkan kebiasaan hidup perkotaan yang sehat dan berkelanjutan," ujar Joga kepada para wartawan di Museum Prasasti Taman Prestasi, Jakarta. Sebelum Peta Hijau Jakarta 2009 telah dibuat Peta Hijau Jakarta Kawasan Kemang (2001), Kebayoran Baru (2002), Menteng (2003), dan Kota Tua (2005).

Menurut Joga, Peta Hijau menempatkan sarana transportasi massal tidak hanya sekadar sebagai alat penghantar dari rumah ke tempat kerja, tetapi juga sebagai wahana pembelajaran menikmati dan menjelajahi kehidupan kota.

Selain itu, lokasi-lokasi obyek wisata dalam peta tersebut dapat dicapai dengan mudah dari jalur bus transjakarta atau jalur kereta. "Dengan demikian, pemakaian kendaraan pribadi dapat dikurangi. Ini merupakan salah satu solusi jitu mengurangi benang kusut kemacetan dan pencemaran udara berbiaya rendah," ujar Joga.

Bank Dunia, yang turut membantu mengeluarkan 5.000 dollar AS, sepakat bahwa peta tersebut dapat mendorong masyarakat mengalihkan penggunaan kendaraan pribadi ke kendaraan umum. "Program ini sejalan dengan program Bank Dunia yang bertekad untuk mengurangi efek rumah kaca, termasuk yang berasal dari kendaraan bermotor," ujar Spesialis Lingkungan dan Kebijakan Bank Dunia Virza Sasmitawidjaja.